Tersesat tengah malam di tengah kota baru pertama kali ku alami. Sungguh menyedihkan ketika akses GPS (Global Positioning System) tidak normal gara-gara kehabisan pulsa. Di sepanjang jalan utama kendaraan masih banyak yang berlalu lalang. Aku merasa sangat lelah. Hembusan angin malam membuat tubuhku semakin tidak berdaya melawan lelahnya tubuh. Mondar mandir dari jalan yang satu ke jalan yang lain sampai kembali lagi pada jalan yang pertama kali ku lalui. Menelusuri gang-gang perkampungan yang sudah sepi membuat aku semakin kesulitan mencari jalan yang benar. Bahkan sempat aku menemui jalan buntu. Anjing-anjing menggonggong padaku. Seakan-akan aku dianggap sebagai penggangu tidur malam mereka. Karena jalan buntu akhirnya ku putuskan untuk putar balik. Di sisi kiri jalan ku lihat di depan sebuah bangunan terdapat tulisan “Berseri Tanpa Korupsi”. Ku pikir itu adalah bangunan untuk menampung para anggota KPK. Namun, kenapa berada di gang sempit dan bahkan buntu? Atau mungkin saja itu bangunan sementara untuk anggota KPK yang menunggu dibuatkan gedung baru.
Aku merasa hanya berputar-putar saja melewati jalan dan gang-gang yang baru pertama kali ku jumpai ini. Di sepanjang gang-gang dalam perkampungan sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa pasang mata yang masih berkeliaran. Di pinggir-pinggir jalan, warung kopi masih setia melayani pelanggannya yang belum tidur. Akhirnya untuk mencari Gang Apel, ku hentikan motor di depan sebuah rumah milik Tionghoa. Seorang laki-laki berusia kira-kira 50 tahun yang masih berada di depan rumah tengah malam ku hujani pertanyaan. Dan akhirnya bapak-bapak itu menunjukkan aku jalan yang benar tanpa bayar.
Warna warni lampu kota memberikan penerangan pada malam. Jalan-jalan memang sudah mulai sepi. Tidak sepadat siang hari. Sekalipun terik, orang-orang lebih suka melakukan aktifitas di bawah cahaya mentari. Namun, ada sebagian orang yang lebih suka bekerja di bawah pancaran sinar rembulan dan kerlipan bintang-bintang.
Lihat saja tukang parkir yang mangkal di depan PGS (Pusat Grosir Solo), nampaknya dia masih kuat melek sampai beberapa jam kedepan. Demi mencari dua ribu rupiah per motor yang parkir di tempatnya dia melawan dinginnya angin malam yang penuh penyakit. Hasilnya pun masih harus dibagi dengan pemerintah Kota Solo. Aku yakin, waktu kecil dia tak pernah bercita-cita untuk menjadi tukang parkir. Jangankan bercita-cita. Memikirkannya saja tak pernah. Mungkin dia bercita-cita menjadi pegawai negeri yang setiap hari bekerja pada siang hari dan pulang pada sore hari. Namun nasib berkata lain padanya.
Ada sepasang remaja yang berhenti di tempat parkir. Raut wajah mereka nampak sedikit kacau. Sepertinya mereka bingung. Mungkin tempat itu terlalu ramai untuk dikunjungi. Atau mungkin lelakinya bingung karena tak punya uang dua ribu untuk bayar parkir. Tapi sepertinya itu dugaan yang benar-benar ngawur.
Si tukang parkir itu kemudian memperhatikan pasangan yang dari tadi berhenti tanpa parkir itu. “Mas, parkir nopo mboten?” kata tukang parkir pada pasangan itu. Pasangan itu langsung pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Aku pun tersenyum melihat salah satu pemandangan di tengah ramainya lautan manusia.
Bahkan seorang tukang parkir di Solo saja menggunkan Bahasa Jawa Kromo Inggil pada pelanggannya. Belum pernah ku temui sebelumnya. Di beberapa daerah perkotaan akan lebih suka menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan di pedesaan. Para tukang parkir pasar lebih suka menggunakan bahasa sehari-harinya. Bahasa Jawa biasa bahkan ada beberapa yang sering mengucapkan bahasa-bahasa kasar.
Cerita dari Mbak Sekar masih terngiang di benakku. Tentang kelemah lembutan orang Solo. Dalam tindak maupun tutur. Bahkan seorang tukang parkir saja menggunakan Bahasa Jawa Kromo dengan seorang remaja. Nenek moyang Jawa dulu selalu menyuruh menghormati yang lebih tua atau yang memiliki pangkat. Itu jaman dulu. Jaman sekarang semua orang wajib saling menghormati. Bukan menganggakat tangan dan memberi hormat. Melainkan lebih pada perlakuan dan tutur kata.
Tingkat kesopanan manusia antar daerah berbeda-beda. Perbedaan kebiasaan perilaku adat istiadat yang diturunkan nenek moyang menjadi faktor utama perbedaan.
Orang Jawa Timur dikenal memiliki bahasa dan kata-kata yang kasar. Namun, kekasaran kata-kata yang digunakan di kehidupan sehari-hari itu tidak pernah di permasalahkan. Itu merupakan kebiasaan dan adat mereka. Mereka menganggap itu biasa saja.
Akan sangat berbeda ketika kita berada di Solo. Masyarakat Solo memang dikenal dengan gerak gemulai dan tutur lembutnya. Contohnya tukang parkir yang ku lihat kemarin. Selain itu aku juga sempat makan di warung makan pinggir jalan. Penjualnya pun bertutur dengan lembut dengan menggunakan bahasa yang halus. “Pesen nopo mbak?”
Pernah aku berbincang dengan salah satu orang Solo di acara Blogilicius. Wanita berjilbab yang belum ku ketahui namanya itu pun tutur katanya sangat lembut. Sekalipun lemah lembut pada wanita membuatnya anggun. Namun, kadangkala aku juga dibuat jengkel karena saking lembutnya suara itu, pendengaranku sulit menangkap tiap kata dari mulutnya.
Malam ini memang sedang ada acara di depan Graha Solo Raya. Setiap bulan Juli, kota Solo selalu mengadakan Fashion Show Batin yang ditampilkan out door supaya bisa dinikmati seluruh masyarakat kota Solo. Lenggang-lenggok para model mengikuti hentakan music jedag-jedug. Aku yakin, para model itu tak kan mampu berjalan sebagus itu tanpa musik. Atau bahkan jika musiknya diganti dengan suara gamelan Jawa. Gaya berjalan mereka pasti akan berubah menjadi lemah gemulai seperti putri Solo.
Penulis : Aylla
Jengker.com Waktunya Tahu Dunia
